Mataku hanya tertunduk sembari melihat langkah raguku di sepanjang jalan pulang. Langkahku terasa begitu berat, entah karena tas besar yang selalu kubawa ini atau kejadian di jam istirahat tadi. "Ih, pergi sana kau kutu buku! Kamu mending ke perpustakaan aja sana! Ga perlu main sama kami!" ucap mereka yang membuatku kembali menjadi "pohon" di pojokan taman sekolah. Ingatan tersebut menyatu dengan cahaya mentari senja yang kian memendar di trotoar hingga membuatku dapat menghitung jumlah kerikil di sepanjang jalan. Namun, kian lama pandanganku makin memburam. Bukan karena kacamataku sudah tidak berfungsi dengan baik, tetapi karena air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
Keheningan dalam kejadian tersebut terus menemani perjalanan pulangku hingga suara tawa kasar memecah lamunanku. Kudengar suara tawa tersebut Tak jauh dari gang sempit yang sejalan dengan arah pulangku. Aku pun mendekat ke arah suara tersebut dan mencoba mengintip dari balik tumpukkan kayu bekas. Sontak diriku terdiam melihat suatu hal yang sangat kukenali: ketidakadilan. Dua anak laki-laki yang lebih kecil dariku sedang tersudut di tembok. Di depan mereka, seorang anak laki-laki yang lebih besar, mungkin seusiaku, sedang memegang salah satu tas mereka, menggeledahnya, sementara yang lain mendorong-dorong bahu kecil mereka.
Dua anak itu gemetar. Salah satunya mulai terisak pelan. Isakan itu menghantam dadaku. Itu adalah suara yang sering diriku telan sendiri di toilet sekolah agar tidak terdengar siapapun.
Sesuatu dalam diriku bergejolak. Rasa sedih yang tadinya membuatnya lunglai mendadak berubah menjadi kemarahan yang dingin. Aku tidak merasa kuat. Tanganku justru gemetar hebat, dan jantungnya berdegup hingga ke telinga. Namun, pikiran 'Cukup. Jangan ada lagi yang merasa seperti diriku' mengambil alih logikaku.
Aku melangkah maju. Tidak dengan gagah, melainkan dengan napas yang memburu.
"Hei!" teriakku. Suaraku pecah, sedikit melengking karena takut. "Kembalikan tasnya!"
Si perundung menoleh, menyeringai melihat diriku yang tampak kurus dan gemetar. "Oh, ada pahlawan kesiangan. Mau ikutan juga?"
Aku mendekat, menempatkan diriku tepat di depan kedua anak kecil itu. Aku merentangkan tanganku, membentuk perisai manusia. Aku bisa merasakan punggung kecil kedua anak itu menempel pada seragamku yang berkeringat.
"Pergi," diriku berusaha untuk berteriak tegas, akan tetapi kali ini lebih lengkinganku malah semakin rendah, mataku menatap tajam meski kakiku terasa seperti jeli yang akan terjatuh tumpah. "...atau aku teriak sekarang juga. Ada rumah Pak RT di sebelah sana, dia pasti dengar!"
Ketegangan terjadi selama beberapa detik. Si perundung menimbang-nimbang, lalu dengan decihan kasar, ia melempar tas itu ke tanah. "Cih, pengadu. Awas kamu, ya!"
Begitu para perundung itu menjauh, keheningan kembali. Diriku hampir jatuh terduduk karena kakiku begitu lemas. Namun, aku merasakan tarikan kecil di ujung bajunya.
"Kak... terima kasih," bisik salah satu anak kecil itu sambil memeluk tasnya yang kotor.
Diriku menoleh pelan. Setelah sekian lamanya menjadi "pohon" di pojokan, ini adalah pertama kalinya bagiku, seseorang melihatku dengan binar kekaguman, bukan ejekan atau kebosanan.