Dossier
An Old Buttler
Frostia Aceda Selama empat puluh tahun, ia melayani sebuah rumah bangsawan yang namanya hanya dibisikkan di lorong-lorong gelap, di antara para penguasa yang tak ingin terlihat. Sebuah keluarga yang lebih sering disebut dengan gelar-gelar samar: Yang Berdaun Emas, Tuan dari Balik Tirai, Pemilik Suara yang Tak Terucap.
Ia bukan sekadar pelayan. Ia adalah penjaga rahasia.
Ketika jamuan malam berlangsung, ia menyajikan anggur dengan sikap sempurna, sambil memastikan gelas tamu tertentu diisi racun yang tak berasa. Ketika ada pengkhianat yang perlu "diamankan", ia yang membersihkan noda darah sebelum fajar menyingsing. Ketika dokumen penting harus dicuri, ia melakukannya tanpa pernah meninggalkan jejak—kecuali, mungkin, seulas senyum tipis di bibir tuannya.
Tapi tuannya bukan lagi orang yang sama.
Yang dulu memercayainya telah mati, digantikan oleh darah mudanya yang tak punya kesabaran untuk sejarah. Mereka melihat Frostia dan yang terpantul di mata mereka hanyalah seorang kakek yang tangannya mulai gemetar, yang langkahnya tak lagi senyap seperti dulu.
"Kau sudah tua," kata mereka. "Pergilah sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri."
Mereka memberinya sekantung koin—upah pensiun, sebut mereka—dan sepatu baru, seolah-olah itu cukup untuk mengganti empat puluh tahun pengabdian.